mig33 Palopo

Tongkrongan migerz sejati
 
IndeksPortalCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Langkah Kuda Kalla: Skenario Alternatif?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Nyilut_jie
Senior Member
Senior Member


Male
Jumlah posting : 190
Age : 30
Lokasi : MAKASSAR-SOROAKO
Registration date : 13.02.09

PostSubyek: Langkah Kuda Kalla: Skenario Alternatif?   9/3/2009, 19:54

Saat ini, mungkin tidak ada calon presiden alias capres yang sebingung Jusuf Kalla. Hal ini memang aneh, tetapi bukan tanpa dasar. Kesediaan Kalla menerima pencalonan dirinya oleh Dewan Pimpinan Daerah Tingkat I Partai Golkar seusai menghadiri Rapat Konsultasi Nasional di kantor DPP Partai Golkar, membawa beban sendiri bagi dirinya. Terjadi benturan antara harapan dan kenyataan bagi Kalla untuk maju pada pemilihan presiden (Pilpres) 2009 sebagai capres Partai Golkar.

Pertama, sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Kalla adalah kader terbaik partai berlambang beringin. Ini artinya Kalla juga tidak bisa menghidar atau berkata tidak. Kesediaan Kalla menjadi capres bukan cuma soal ambisi politik personal, tetapi juga menyangkut masa depan dan harga diri Partai Golkar sebagai partai besar.

Kedua, sebagai partai yang berpengalaman saat ini Golkar memiliki 480 mesin politik di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat II yang menjangkau 9500 kecamatan dan 72250 desa. Ini artinya, Partai Golkar punya mesin politik yang bisa diandalkan untuk memenangkan Kalla sebagai Presiden.

Ketiga, mengacu pada hasil survei yang digelar Lembaga Riset Indonesia (LRI), masyarakat sudah tidak menjadikan kriteria capres jawa dan non jawa sebagai alasan untuk memilih. Terbukti, dari 1500 responden di 33 propinsi, sebanyak 74,9 persen responden menyatakan demikian.

Sementara berbicara soal peluang, semuanya berbanding terbalik. Mengacu pada hasil survei beberapa lembaga riset seperti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) alias LSI-nya Denny JA, Indo Barometer, Lembaga Survei Indonesia (LSI) atau LSI-nya Saiful Mujani, dan Lembaga Survei Nasional (LSN), nama Jusuf Kalla bukanlah figur yang terpopuler atau kandidat terkuat untuk memenangkan Pilpres nanti.

LSI-nya Denny JA yang melakukan survei sepanjang bulan September 2007 di 33 propinsi dengan 1200 responden menempatkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri sebagai dua kandidat terkuat. Jusuf Kalla hanya menempati urutan kelima dengan hasil 12,1 persen dibawah Wiranto (20,2 %) dan Sultan Hamengku Buwono X (15,1%).

Begitu pula dengan hasil survei LSI versi Saiful Mujani pada 10 sampai 22 Desember 2008 dengan 2200 responden yang tersebar di 33 propinsi, menetapkan SBY sebagai kandidat terkuat dengan 43 persen pemilih. Menyusul Megawati dengan 19 persen pemilih. Sementara Jusuf Kalla hanya dipilih oleh 2 persen responden.

Versi Indobarometer menempatkan Sultan Hamengku Buwono X sebagai yang terpopuler di Partai Golkar, mengalahkan Surya Paloh, Jusuf Kalla, dan Agung Laksono. Tetapi begitu, untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009, Direktur Indo Barometer M. Qodari menilai Partai Golkar tidak memiliki figur capres populis sebagaimana partai lain.

Hal ini juga diakui oleh Ketua DPP Golkar, yang juga Ketua Umum Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi) Syamsul Muarif. Menurutnya, di Golkar tidak ada tokoh yang punya kharisma kuat sebagaimana halnya partai lain, seperti dikutip dari Inilah.com 20 Februari lalu.

Survei Lembaga Survei Nasional (LSN) yang diadakan tanggal 20-27 September 2008 dengan 400 responden di 15 kota besar di Indonesia, juga masih menempatkan SBY dan Megawati sebagai dua teratas dengan 30 persen dan 15,3 persen pemilih. Sementara Jusuf Kalla hanya dipilih 0,8 persen responden.

Inilah benturan yang saya maksudkan. Sebetulnya Kalla punya potensi untuk terus maju sebagai capres, tapi dia juga harus berpikir realistis soal peluang atau kemungkinan menang.

Hasil-hasil survei ini memang hanya prediksi, bukan hasil akhir. Pertandingan juga belum dimulai. Namun setidaknya, hasil riset ini bisa dijadikan acuan penyusunan strategi pemenangan pemilu. Bila berdasarkan hasil empat survei ini jelas menunjukkan posisi Jusuf Kalla sebetulnya terjepit. Di satu sisi, sebagai ketua umum dia harus menjaga harga diri partai. Namun disisi yang lain, peluangnya untuk memenangkan Pilpres tidak sebaik SBY maupun Megawati. Bahkan kalah pamor dari Wiranto atau seterunya di partai, Sultan Hamengku Buwono X.

Jadi ada dua pilihan bagi Kalla. Maju terus sebagai capres dari Partai Golkar atau tetap mempertahankan duet SBY-JK di periode kedua. Pilihan kedua ini bukan tanpa alasan. Berbagai hasil survei masih menempatkan SBY-JK sebagai pasangan terkuat memenangkan Pilpres 2009 nanti.

Jika ternyata Kalla memilih yang kedua,inilah yang saya sebut dengan langkah kuda Kalla. Caranya, dengan penggagalan secara formal dan pengunduran diri dari posisi ketua.

Saat ini, meski Kalla telah menyatakan kesediaannya siap maju sebagai capres, tetapi partai Golkar belum memutuskan siapa bakal capres resminya. Ada tujuh nama yang masuk nominasi, yakni Jusuf Kalla, Surya Paloh, Akbar Tanjung, Muladi, Aburizal Bakrie, Fadel Muhammad, dan Sultan Hamengku Buwono X.

Untuk terpilih sebagai capres pilihan partai,para nominator itu akan disurvei secara internal Golkar pada Maret 2009 dan diumumkan 23 April 2009 dalam Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus). Nah, disinilah menurut saya langkah penggagalan itu diwujudkan.

Kalla tidak akan memenangkan hasil survei atau paling tidak hanya menempati peringkat kedua atau ketiga saja. Mengalah? Ya, karena sebagai ketua umum, Kalla sebetulnya mempunyai peluang paling besar. Pertama, Kalla tentu memiliki kekuatan formal untuk menggerakkan struktur kepengurusan mendukung dia. Kedua, sebagai ketua, Kalla juga menjadi simbol partai. Yang ketiga, faksi pendukung Kalla boleh jadi yang terbesar saat ini.

Tapi tiga alasan ini tentu bisa dipatahkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni memenangkan Partai untuk tetap berkuasa. Tinggallah mencari cara yang elegan, supaya partai maupun Kalla tidak kehilangan muka.

Jika ini dilakukan, maka kemungkinan Sultan Hamengku Buwono menjadi pemenangnya cukup terbuka. Apalagi, banyak survei yang menyatakan pamor raja Yogyakarta ini terus meningkat. Bahkan hasil surveinya selalu diatas Kalla.

Kemungkinan kedua adalah come back-nya Akbar Tanjung yang dianggap sebagai salah satu tokoh Golkar yang paling disegani dan dihormati. Meski tidak lagi duduk sebagai pengurus, pengaruh Akbar Tanjung di dalam partai ini masih cukup signifikan.

Salah satu yang disebut -sebut sebagai bukti kemenangan lobi kubu Akbar adalah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal caleg dipilih berdasarkan suara terbanyak. Akil Mochtar, hakim MK disebut punya peran sentral. Maklum, Akil dianggap sebagai pendukung setia kubu bang Akbar. Keputusan ini membuat caleg pendukung kubu Akbar yang banyak berada di nomer besar pun bersorak.

Alhasil, keputusan Rapimnasus Golkar April nanti pun tidak akan jauh dari hasil survei. Pasalnya, survei itu merupakan bentuk mekanisme penjaringan capres Golkar dari bawah menggantikan konvensi yang pernah dilakukan. Semua kader pun tunduk kepada keputusan Rapimnasus nanti.

Tidak terpilihnya Ketua Umum sebagai capres bukanlah untuk pertama kali. Ingat konvensi Golkar untuk Pilpres 2004. Ketua Umum Golkar ketika itu, Akbar Tanjung kalah dari Wiranto di putaran kedua konvensi. Jadi preseden itu sebenarnya sudah ada.

Ketika itu, Golkar tidak hilang akal. Partai ini sudah menyiapkan sekoci penyelamat dengan menyeberangnya Jusuf Kalla untuk berduet dengan SBY. Kenapa begitu? Terbukti Kalla tetaplah menjadi kader Golkar sampai saat ini. Tindakannya itu juga tidak dianggap pembelotan terhadap Partai. Malah Kalla dianggap jadi pahlawan, karena menyelamatkan muka partai setelah Wiranto gugur di putaran pertama Pilpres 2004.

Jadi strategi ini sebenarnya sudah pernah dilakukan. Bedanya kali ini, posisi kalla adalah ketua umum. Jadi modifikasi strategi mutlak dilakukan. Mungkin didahului dengan mekanisme pengunduran diri sebagai ketua umum partai dengan alasan yang tepat. Strategi ini tentu penuh resiko, tetapi juga bisa dimengerti.

Sebagai politisi ulung, kembali berduet dengan SBY untuk periode kedua adalah langkah yang realistis. Apalagi, duet ini masih yang terbesar peluangnya menurut survei.

Hasil polling terbaru yang dilakukan Lembaga Riset Informasi (LRI) pada 8 sampai 16 Februari kemarin menunjukkan duet SBY-JK tetap yang teratas dengan perolehan suara 37,7 persen. Mengalahkan pasangan Jusuf Kalla-Hidayat Nur Wahid (26,88%) atau Megawati-Sultan Hamengku Buwono (37,2 %).

Apakah dukungan Golkar terhadap duet SBY-JK akan hilang? Tidak. Hasil riset LSI Saiful Mujani Desember lalu menyebut yang memilih SBY jauh lebih tinggi (43%) dari yang memilih Demokrat (23%), dan akibatnya pemilih SBY tersebar juga di partai lain, terutama Golkar. Sejurus dengan ini, LSI menyebut efek JK terhadap Golkar juga kuat, sayang yang memilihnya terlalu sedikit (2%).

Secara riil politik, Kalla masih memiliki gerbong Iramasuka (Irian Jaya, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan) yang tetap berdiri sebagai pendukung setia.

Hakikat pemilu adalah jalan merebut kekuasaan. Baik kekuasaan demi kepentingan dan kebesaran partai, maupun ambisi pribadi kadernya. Lewat langkah kuda ini, Kalla bisa membuat Golkar tetap bercokol sebagai partai penguasa. Meski dia lagi-lagi jadi orang nomer dua.

Namun bukan sembarang wapres, tapi The Real Vice President! Wapres yang memiliki “bargaining position” yang kuat terhadap presiden karena partainya lebih besar daripada partai presiden di parlemen. Apa langkah Kalla
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Langkah Kuda Kalla: Skenario Alternatif?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» JUAL LAHAN PERKEBUNAN DAN PERIKANAN DI PERBATASAN CIPANAS CIANJUR (TAPAL KUDA)
» ALTERNATIF KAMPAS REM
» stang jepit alternatif buat ninja250 kita
» Ban alternatif
» Asking membuka toko variasi motor

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
mig33 Palopo :: NATIONAL :: News-
Navigasi: